PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA SMA N 2 SLEMAN
DOI:
https://doi.org/10.32504/hjce.v7i1.1152Keywords:
Pendidikan, Kesehatan , ReproduksiAbstract
Banyaknya populasi remaja, membuktikan bahwa remaja harus diperhatikan karena masa remaja merupakan masa yang sangat krusial karena remaja merupakan tonggak penerus bangsa. Salah satu tantangan di era globalisasi ini adalah krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Berbagai permasalahan kesehatan reproduksi remaja seperti kehamilan tidak diinginkan, NAPZA, freesex pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang rendah, dan pornografi menjadikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi sangat penting diberikan kepada remaja. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada siswa-siswi tentang kesehatan reproduksi. Kegiatan dilakukan kepada siswa-siswi SMA N 2 Sleman dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan media powerpoint dan video. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan membagikan kuesioner pretest dan posttest. Didapati hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terdapat perubahan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan ada perbedaan tingkat pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi pada siswa-siswi SMA N 2 Sleman.
References
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI MENGGUNAKAN MEDIA PEMBELAJARAN PADA SISWA SMA N 2 SLEMAN
Mudita Sri Hidayah*, Ulfa Syifa Dewi
Program Studi Kesehatan Masyarakat, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan, Jalan Ringroad Selatan Blado Potorono Banguntapan Bantul Yogyakarta
*Penulis Koresponden, e-mail : muditasrih@yahoo.com , 0811396944
ABSTRAK
Banyaknya populasi remaja, membuktikan bahwa remaja harus diperhatikan karena masa remaja merupakan masa yang sangat krusial karena remaja merupakan tonggak penerus bangsa. Salah satu tantangan di era globalisasi ini adalah krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Berbagai permasalahan kesehatan reproduksi remaja seperti kehamilan tidak diinginkan, NAPZA, freesex pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang rendah, dan pornografi menjadikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi sangat penting diberikan kepada remaja. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pendidikan kepada siswa-siswi tentang kesehatan reproduksi. Kegiatan dilakukan kepada siswa-siswi SMA N 2 Sleman dengan memberikan pendidikan kesehatan dengan menggunakan media powerpoint dan video. Evaluasi kegiatan dilakukan dengan membagikan kuesioner pretest dan posttest. Didapati hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terdapat perubahan tingkat pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan ada perbedaan tingkat pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi pada siswa-siswi SMA N 2 Sleman.
Kata Kunci : Pendidikan; Kesehatan; Reproduksi.
ABSTRACT
The large population of adolescents proves that they must be given attention because adolescence is a crucial period as they are the future leaders of the nation. One of the challenges in this era of globalization is the moral crisis and the destruction of the nation's generation due to the increasing prevalence of promiscuity around us. Various reproductive health issues among adolescents, such as unwanted pregnancies, substance abuse, low knowledge about reproductive health, and pornography, make reproductive health education crucial for adolescents. This community service activity aims to provide education to students about reproductive health. The activity was conducted with students at SMA N 2 Sleman by providing health education using PowerPoint presentations and videos. The activity was evaluated by distributing pretest and posttest questionnaires. The results of this community service activity showed an increase in knowledge levels about reproductive health and a significant difference in knowledge levels between before and after the reproductive health education was provided to the students at SMA N 2 Sleman.
Keywords : Education; Health; Reproductive
PENDAHULUAN
Remaja merupakan penduduk dengan rentang usia 10–19 tahun. Berdasarkan data dari United Nations Children’s (UNICEF) terdapat 1,2 miliar remaja di seluruh dunia, yang membuat remaja menjadi populasi terbanyak dari penduduk dunia lainnya. Indonesia sendiri memiliki jumlah penduduk remaja menurut sensus penduduk 2020 sebanyak 74,93 juta jiwa. Banyaknya populasi remaja, membuktikan bahwa remaja harus diperhatikan karena masa remaja merupakan masa yang sangat krusial karena remaja merupakan tonggak penerus bangsa (UNICEF, 2019).
Salah satu tantangan di era globalisasi ini adalah krisis moral dan hancurnya generasi bangsa akibat seks bebas yang semakin marak terjadi di sekitar kita. Bukan sesuatu hal yang asing lagi, saat ini banyak anak muda yang telah kehilangan cita-cita, visi dan semangat dalam hidupnya karena menjadi korban seks bebas yang semakin merajalela (Hibriyah, 2019). Laporan KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesi) pada tahun 2018 menyebutkan dari survei yang dilakukan di 12 kota besar di Indonesia lebih dari 4.500 remaja yang di survei, 97 persen di antaranya mengaku pernah menonton film porno(Humas KPAI, 2018). Pendidikan kesehatan reproduksi diperlukan bagi remaja untuk memberikan bekal pengetahuan dan pengawasan sebagai langkah penanggulangan atas kasus yang sudah terjadi. Kurangnya pengetahuan dan ruang untuk berdiskusi atas rasa penasaran menjadi salah satu alasan yang sering terjadi pada masalah yang dihadapi para remaja.
Remaja sendiri memiliki sifat yang khas yaitu memiliki rasa keingintahuan yang besar, suka berpetualangan, tantangan dan berani mengambil risiko tanpa adanya pertimbangan yang matang. Karena sifat remaja yang khas tersebut membuat remaja mulai mengikuti lifestyle perkembangan zaman saat ini. Sehingga mulai mengabaikan norma–norma yang berlaku dan menganggap pacaran adalah hal yang lumrah. Selain lifestyle faktor seperti budaya, lingkungan sekitar juga dapat membuat remaja terpengaruh apalagi dengan adanya media sosial yang mudah diakses remaja sehingga banyak sedikit memberi pengaruh pada sikap remaja, karena pada dasarnya remaja merupakan kelompok yang mudah terpengaruh(Mukmin et al., 2022).
Berdasarkan hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2017 menyebutkan pada tahun 2018 menyebutkan 74% pria dan 59% wanita melaporkan telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah dan pada umur 15–19 tahun, persentase yang paling tinggi yaitu pada umur 17 tahun (19%) (Kemenko PMK, 2021). Alasan remaja melakukan hubungan seksual antara lain 47% saling mencintai, 30% penasaran atau ingin tahu, 16% terjadi begitu saja, masing–masing 3% karena dipaksa dan terpengaruh teman.
Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DIY (DP3AP2) DIY mencatat, meningkatnya pengajuan dispensasi nikah ini membuat angka pernikahan anak di bawah umur atau di bawah 19 tahun juga meningkat signifikan di DIY. Pada tahun 2021, tercatat angka pernikahan anak di bawah umur sebanyak 757 kejadian di DIY. Sepanjang 2015, Dinas Kesehatan DIY mencatat ada 1.078 remaja usia sekolah di Yogyakarta yang melakukan persalinan. Dari jumlah itu, 976 diantaranya hamil di luar pernikahan.
Melihat tingginya angka pernikahan usia dini serta kasus kehamilan remaja di DIY, khususnya yang terjadi di luar pernikahan, menunjukkan masih rendahnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi. Hal ini menjadi perhatian serius berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan dan tenaga kesehatan, untuk melakukan upaya preventif melalui edukasi yang tepat sasaran. Berdasarkan kondisi tersebut, pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pendidikan kepada siswa-siswi SMA N 2 Sleman tentang kesehatan reproduksi.
METODE PELAKSANAAN
Kegiatan pengabdian dilaksanakan dengan melakukan pendidikan tentang kesehatan reproduksi. Realisasi pemecahan masalah melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini didukung oleh partisipasi antara pelaksana kegiatan (Prodi Ilmu Kesehatan Masyarakat STIKes Surya Global) dan SMA N 2 Sleman.
Kegiatan pengabdian yang dilakukan yakni dengan memberikan pendidikan kesehatan reproduksi menggunakan media pembelajaran. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 27 Oktober 2023 pukul 09.00-12.00 di Ruang pertemuan SMA N 2 Sleman. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi menggunakan metode ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Kegiatan ini dilaksanakan dan diikuti oleh siswa SMA N 2 Sleman sebanyak 71 orang terdiri dari kelas XII IPA dan IPS. Instrumen yang digunakan dalam kegiatan ini adalah powerpoint dan video. Kuesioner digunakan untuk evaluasi kegiatan dalam bentuk pretest dan postest. Pretest dan postest digunakan untuk melihat pengaruh pendidikan yang telah dilakukan terhadap pengetahuan siswa-siswi SMA N 2 Sleman. Tingkat pengetahuan siswa hasil evaluasi dibedakan menjadi tiga kelompok, menurut (Arikunto, 2011) tingkat pengetahuan dibagi menjadi: baik (76%-100%), cukup (60%-75%) dan kurang (>60%).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan dengan memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi pada remaja di SMA N 2 Sleman. Peserta dalam kegiatan ini adalah siswa siswi SMA Negeri 2 Sleman kelas XII IPS 1 ,IPA 1 ,dan IPA 2 dengan jumlah 71 responden.
Berdasarkan hasil pretest dan postest siswa SMA N 2 Sleman setelah dilakukan pendidikan sistem reproduksi mengalami peningkatan. Peningkatan pengetahuan terjadi pada kategori setiap kategori, untuk kategori baik dari 39,44% menjadi 100%, kategori cukup 40,89% menjadi 60%, sedangkan kategori kurang meningkat 99%. Pemberian pendidikan pengetahuan sistem reproduksi pada siswa SMA N 2 Sleman meningkatkan pengetahuan dari nilai postest yang menunjukkan progress positif.
Secara rata-rata, skor pre-test yang diperoleh siswa adalah 73,73 dengan standar deviasi sebesar 5,64, sedangkan skor post-test meningkat menjadi rata-rata 97,25 dengan standar deviasi lebih kecil yaitu 2,99. Penurunan nilai standar deviasi dan error pada post-test menunjukkan adanya konsistensi pemahaman peserta setelah intervensi pendidikan diberikan. Dengan demikian kegiatan program kolaborasi ini dinyatakan berhasil karena hasil pre tes dan post tes mengalami peningkatan pengetahuan kesehatan reproduksi.
Pemberian pendidikan sistem reproduksi menggunakan metode ceramah dinilai cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa. Kegiatan ini sejalan dengan Lestari (2018) bahwa terdapat peningkatan dari pengetahuan tentang pacarana sehat pada remaja dengan kategori baik 22,9% menjadi 42,9% melalui metode ceramah. Pendidikan kesehatan menggunakan ceramah dan diskusi mampu meningkatkan kemampuan kognitif dalam pemecahan masalah. Penggunaan metode ceramah selaras dengan penelitian lainnya yaitu dapat meningkatkan pengetahuan remaja tentang kesehatan remaja di SMAN 73 Jakarta tahun 2020 sebesar 15,5 (Dinengsih & Haki m, 2020).
Pendidikan sistem reproduksi yang diberikan orang tua umumnya kurang komprehensif, hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk tingkat pendidikan orang tua, adanya anggapan bahwa topik tersebut tabu, maupun kesulitan dalam menyampaikan informasi secara tepat kepada anak. Orang tua umumnya memberikan pengetahuan mengenai sistem reproduksi kepada anak sebatas pada hal-hal praktis, seperti cara merawat dan menjaga kebersihan organ reproduksi. Sementara itu, pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah umumnya bersumber dari mata pelajaran Biologi pada jenjang pendidikan sebelumnya. Namun demikian, informasi yang disampaikan dalam buku pelajaran cenderung bersifat teoritis dan kurang aplikatif, sehingga tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam memahami materi tersebut maupun menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga perlunya edukasi secara langsung melalui metode ceramah yang dinilai cukup efektif dalam meningkatkan pengetahuan siswa sekolah (Amaliyah & Nuqul, 2017).
KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari data Program Kolaborasi SMA Negeri 2 Sleman, maka dapat disimpulkan pendidikan yang diberikan kepada siswa-siswi di SMA N 2 Sleman dapat meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi
REKOMENDASI
Pihak sekolah perlu mengadakan pendidikan lanjutan tentang kesehatan reproduksi secara berkala untuk siswa siswi SMA N 2 Sleman.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terimakasih disampaikan kepada 1) STIKES Surya Global Yogyakarta 2) SMA N 2 Sleman.
DAFTAR PUSTAKA
Amaliyah, S., & Nuqul, F. L. (2017). Eksplorasi Persepsi Ibu tentang Pendidikan Seks untuk Anak. Psympathic?: Jurnal Ilmiah Psikologi, 4(2), 157–166. https://doi.org/10.15575/psy.v4i2.1758
Arikunto, S. (2011). Penilaian & Penelitian Bidang Bimbingan dan Konseling. In Yogyakarta: Aditya Media.
Dinengsih, S., & Hakim, N. (2020). Pengaruh Metode Ceramah Dan Metode Aplikasi Berbasis Android Terhadap Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja. Jurnal Kebidanan Malahayati, 6(4), 515–522. https://doi.org/10.33024/jkm.v6i4.2975
Hibriyah, F. (2019). Hubungan Antara Konsep Diri dan Kematangan Emosi Remaja ditinjau dari Penerimaan Diri Pada Anak Broken Home di Gresik . Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Humas KPAI. (2018). KPAI?: Lindungi Masa Depan Anak Kecil Yang Menonton Video Asusila.
IP, L., & SA, W. (2018). Pendidikan Kesehatan Reproduksi Dengan MPI (Media Pembelajaran Interaktif) Untuk Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja SMA. Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Indonesia (Indonesian Journal of Independent Community Empowerment), 1(1), 1–6. https://doi.org/10.35473/jpmmi.v1i1.18
Kemenko PMK. (2021, May 31). Pemerintah Fokus Cegah Perilaku Seksual Berisiko di Kalangan Pemuda.
Mukmin, A. M., Andi Asrina, & Andi Nurlinda. (2022). Pengaruh Promosi Kesehatan Media Tiktok Terhadap Pengetahuan Remaja Mengenai Perilaku Seksual Pranikah Di SMA Negeri 3 Maros. Window of Public Health Journal, 3(4), 690–699. https://doi.org/10.33096/woph.v3i4.438
UNICEF. (2019). World Population Prospects: The 2019 Revision.
Downloads
Published
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2025 Mudita Sri Hidayah, Ulfa Syifa Dewi

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Ketentuan legal formal untuk akses artikel digital jurnal elektronik ini tunduk pada ketentuan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike (CC BY-SA), yang berarti Jurnal Surya Medika berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan mempublikasikan artikel tanpa meminta izin dari Penulis selama tetap mencantumkan nama Penulis sebagai pemilik Hak Cipta.
