Pendidikan Kader Posyandu : Deteksi Dini Stunting Pada Balita di Kampung Notoyudan Kota Yogyakarta
DOI:
https://doi.org/10.32504/hjce.v3i1.410Keywords:
balita, deteksi dini, pendidikan kader posyandu, stuntingAbstract
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kurang gizi yang bersifat kronik sejak awal kehidupan. Banyak faktor yang mempengaruhi stunting diantaranya adalah karakteristik ibu hamil, karakteristik balita, pelayanan kesehatan, dan faktor sosial ekonomi. Kader posyandu mempunyai peran strategis dalam pengendalian dan pencegahan stunting. oleh karena itu diperlukan pendidikan kepada kader Posyandu terkait dengan deteksi dini stunting pada balita. Tujuan dari abdimas adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader posyandu dalam melaksanakan deteksi dini stunting pada balita. Metode pendidikan menggunakan penyuluhan dan praktik langsung mengukur tinggi/panjang badan balita. Hasil dari pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatnya keterampilan dan pengetahuan kader posyandu dalam hal deteksi dini stunting pada balita. Peningkatan pengetahuan dapat dilihat dari hasil pre dan post test sedangkan peningkatan keterampilan dapat dilihat dari setiap peserta dapat mempraktekkan cara mengukur tinggi/panjang badan dengan benar.
References
WHO, child growth standards and the identification of severe acute malnutrition in infants and children: joint statement by the World Health Organization and the United Nations Children's Fund. 2009.
Badham, J. and L. Sweet, Stunting: an overview. Sight and Life Magazine, 2010(3/2010): p. 40-47.
Kemenkes, R., Profil Kesehatan Indonesia tahun 2017 http://www. depkes. go. id/resources/download/profil. PROFIL KES_RI, 2016. 2017.
Achadi, E. Stunting: Permasalahan dan potensi dampaknya terhadap kualitas SDM di Indonesia. in Disampaikan pada rembug stunting Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional RI (Stunting: Problems and potential impacts on quality of human resources in Indonesia. Presented at the stunting meeting of the Indonesian Ministry of National Development Planning. Website. 2018.
BAPPENAS, Hasil utama riskesdas 2018. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2018.
Anonim, Profil Kesehatan DIY tahun. 2018.
Anonim, Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia, Edisi 1 Semester 1 Tahun 2018 (Buletin Jendela Data dan Informasi Kesehatan 2018). 2018.
Aryastami, N.K. and I. Tarigan, Kajian kebijakan dan penanggulangan masalah gizi stunting di Indonesia. Buletin Penelitian Kesehatan, 2017. 45(4): p. 233-240.
WHO, Global nutrition targets 2025: Stunting policy brief. 2014, World Health Organization.
Bloem, M., Preventing stunting: why it matters, what it takes, in The Road to Good Nutrition. 2013, Karger Publishers. p. 13-23.
WHO, Stunting, Childhood. Context, Causes and Consequences WHO Conceptual Framework. 2013, WHO.
Soekirman, A.N. and J. Erikania, Gizi seimbang untuk anak usia 0-2 tahun. dalam: Sehat & Bugar Berkat Gizi Seimbang. Jakarta: Nakita Kompas-Gramedia & Institut Danone Indonesia, 2010.
Sudiman, H., Stunting Atau Pendek: Awal Perubahan Patologis Atau Adaptasi Karena Perubahan Sosial Ekonomi Yang Berkepanjangan? Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2008. 18(1).
Proverawati, A. and C. Ismawati, BBLR (berat badan lahir rendah). Yogyakarta: Nuha Medika, 2010. 61.
Soetjiningsih, Tumbuh kembang anak. 2012, Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Almatsier, S., Prinsip Dasar Ilmu Gizi. 2009, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Gibson, R.S., Principles of nutritional assessment. 2001: Oxford university press.
UI, F.K.M., Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 2008, Jakarta: PT Rajagrafindo Perkasa.
WHO, Child Growth Standards : length/height-forage, weight-for-age, weightfor-lenght, weight for height snd body mass index-for-age : methods and develpoment. Geneva. 2006, Geneva: Departement of Nutrition for Helath and Development.
